Mas Jain, Mimpi Penjual Siomay Keliling Untuk Sejahtera

Mengadu nasib di Jakarta ternyata tidak semudah yang dibayangkan, berbekal ijazah SMA yang dimilikinya Mas Khujaini atau biasa dipanggil mas Jain mencoba mengadu peruntungan dengan menjadi buruh disalah satu pabrik di Jakarta Timur. Tapi sayang nasib berkehandak lain, kesejahteraan yang diimpikan Mas Jain ketika berangkat ke Jakarta berubah 180 derajat ketika nasib membawanya menjadi penjual Siomay keliling di Jakarta.


Impian Mas Jain untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya dengan menjadi buruh di Jakarta memang kuat dan cukup beralasan pasalnya menurut Mas jain, kesempatan untuk meraih kesuksesah dan kesejahteraan di Jakarta sangatlah mudah.” Saya bilang cukup mudah karena dari segi pendapat UMR (red.upah minimum rata-rata) antara Jakarta dan daerah seperti Tegal misalnya sangat jauh berbeda,” terang mas Jain.

Menurut Mas Jain, untuk daerah Tegal, Jawa Tengah UMR buruh hanya Rp 300 ribu dan UMR daerah Jakarta sudah mencapai Rp 900 ribu sedangkan harga-harga kebutuhan pokok rata-rata hampir sama bahkan di Jakarta cenderung lebih murah. “Makanya menurut saya untuk mencapai kesejahteraan lebih cepat bekerja di Jakarta,” katanya.

“Dengan alasan pendapatan di Jakarta lebih besar saya nekad memberanikan diri hijrah ke Jakarta untuk bekerja menjadi di salah satu pabrik di daerah di Jakarta Timur. Dan menurut saya ketika bekerja menjadi buruh itulah saya merasa kehidupan saya jauh lebih baik dari sekarang karena gaji pokok saya sudah mencapai Rp 1 juta,” kata Mas Jain.

Alasan lain mengapa Mas Jain mengadu nasib di Jakarta adalah karena di daerahnya mencari pekerjaan sangat sulit. Sedangkan untuk menjadi petani tidak punya tanah untuk digarap. “Alasan-alasan seperti itu saya kira banyak yang dipakai oleh orang-orang yang mengadu nasib di Jakarta,” jelasnya.

Ketika ditanya bagaimana caranya agar orang-orang daerah tidak banyak mengadu nasib di Jakarta menurut Mas Jain pemerintah harus bisa menciptakan keadilan dalam pembangunan serta pemerataan distribusi pendapatan. Pemerintah juga harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan di daerah-daerah. “Saat ini Jakarta masih menjadi tempat impian untuk meraih kesuksesan karena di Jakarta pusat-pusat perdagangan dan indsutri tumbuh pesat, sedangkan di daerah perkembangan industrinya sangat lamban sekali,” terang Mas Jain.

Menurut Mas Jain, dirinya merantau ke Jakarta sudah enam tahun, dua tahun lamanya dia bekerja sebagai buruh kontrak pabrik kemudian ketika masa kontrak kerjanya habis selama satu tahun lebih dia bekerja sebagai kuli serabutan. Merasa sebagai kuli serabutan tidak punya penghasilan yang tetap akhirnya selama dua tahun lebih Mas Jain bekerja disebuah rumah makan padang dibilangan Rawa Mangun, Jakarta Timur. Menjadi pelayan di rumah makan padang boleh dibilang cukup membuat Mas Jain bernafas lega karena penghasilannya sebagai pelayan restoran ada sisanya untuk dikirim ke kampung. Akan tetapi ketika terjadi penggusuran restoran tempatnya bekerja hidupnya berbalik 180 derajat karena secara otomatis Mas Jain kehilangan mata pencahariannya. “Setelah restoran tempat saya bekerja kena gusur, selama beberapa bulan saya menganggur dan akhirnya saya memutuskan untuk berjualan siomay walaupun keuntungannya hanya cukup buat saya makan sendiri di sini,” kata Mas Jain.

Jualan Siomay

Menurut Mas Jain, dirinya berjualan siomay keliling baru enam bulan. Hal itu dia lakukan hanya untuk menyambung hidup dirinya setelah tidak lagi bekerja di restoran. Mimpinya untuk mensejahterakan keluarganya di kampung tetap dia patri karena dengan mimpinya itu dia masih tetap bertahan lebih.”Memang bisa hidup dan makan sehari sekali saja di Jakarta sudah untung, tetapi saya punya mimpi untuk mensejahterakan keluarga dikampung itulah yang membuat saya bertahan,” katanya lirih.

Berjualan siomay, lanjut Mas Jain bukanlah akhir dari usahanya. Harapannya yang masih dipegang adalah bisa membangun kembali restoran padang yang dulu pernah tergusur bersama teman-temannya. “Berjualan siomay keliling cuma mengisi waktu luang sekaligus untuk mempertahankan hidup di Jakarta. Saya masih punya harapan untuk bisa membangun kembali rstoran padang bersama teman-teman saya,” katanya.

Menurut Mas Jain, keuntungan berjualan Siomay sangat cukup buat dirinya sendiri pasalnya keuntungan yang dia dapat perhari hanya Rp 20 ribu itupun sangat berat karena siomay bukanlah makanan pokok hanya makanan sambilan.”keuntungan saya tiap hari maksimal Rp 20 ribu itupun jarang saya dapat mungkin karena siomay bukan nasi yang menjadi makanan pokok,” kata Mas Jain.

Mas Jain mengatakan, tiap hari dirinya berjualan siomay keliling dari mulai jam 14.30 hingga jam 22.00. Dalam sekali keliling Mas Jain biasa membawa siomay 300 buah setiap satu biji siomay Mas Jain mengambil keuntungan Rp 100. “300 biji siomay tiap hari saya jual namun jarang habis semunya,” katanya.

Untungnya, lanjut Mas Jain, dalam berjualan siomay dia hanya tinggal bawa saja siomay dan gerobaknya sudah disediakan oleh juragannya. “Dengan begitu walaupun keuntungan yang saya dapat cuma 20 ribu sehari, bagi saya itu lumayan buat bertahan hidup,” kata Mas Jain.

Menurut bapak satu anak ini, semenjak dirinya berjualan siomay keliling rasa percaya dirinya sangat rendah bahkan dia merasa telah hilang. “Saya kalau menghadapi pembeli sepertinya saya tidak ada harganya. Saya merasa saya orang yang paling kecil dan hina didunia ini,” jelas Mas Jain.

Lalu ketika ditanya apa yang membuatnya bertahan di Jakarta, menurut Mas Jain karena dirinya mempunyai mimpi untuk meraih kesejahteraan bagi keluarganya. Mimpi untuk menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Mimpi untuk menyenangkan istri. “Mimpi untuk meraih kesejahteraanlah yang sampai saat ini membuat saya bertahan dan kuat menjalani hidup di Jakarta, meskipun hidup di Jakarta teramat susah dan berat,” ungkap Mas Jain.

0 Response to "Mas Jain, Mimpi Penjual Siomay Keliling Untuk Sejahtera"

Posting Komentar

Silahkan beri komentar