Mama Sitna, Bertahan Dari “Luka” Konflik


Ketika kita menyebut nama Ambon atau pulau Maluku, maka pikiran kita secara otomatis akan terasosiasi oleh kata konflik, kerusuhan, dan perang saudara. Dan mungkin sampai saat ini ada sebagian orang yang menganggap bahwa Maluku adalah daerah yang tidak aman padahal saat ini daerah Maluku, khususnya kepulauan Halmahera sangatlah kondusif.

Memang sisa-sisa konflik masih ada dan masih berbekas. Sisa-sisa tersebut ada yang sengaja dipertahankan dan dijadikan sebagai monument kelam sejarah serta sebagai pengingat bagi generasi yang akan datang bahwa perpecahan dan permusuhan adalah sesuatu yang amat sia-sia dan menyedihkan.

Ada juga sisa-sisa konflik yang memang belum sembuh benar dan harus segera disembuhkan agar tidak menjadi masalah dikemudian hari. Salah satu korban konflik yang belum sembuh adalah Mama Sitna. Perempuan kelahiran desa Malifut, Halmahera Utara ini mengaku ketika terjadi konflik pada tahun 1999 silam ladang dan rumahnya sempat terbakar.

Akibat konflik itu, tentunya perekonomian keluarga mama Sitna menjadi berantakan atau bahkan bangkrut. Ketika konflik sudah selesai tidak serta merta perekonomian keluarga mama Sitna menjadi lebih baik. Padahal dahulu sebelum terjadi konflik dari hasil ladang yang digarap suami mama Sitna mampu menghidupi 4 orang anak tanpa harus dibantu oleh mama Sitna. Namun saat ini meskipun hanya menghidupi kedua anaknya hasil ladang kelurga mama Sitna tidak mencukupi.

Beruntung ada sosok mama Sitna dalam keluarga itu, ya mama Sitna adalah salah satu perempuan yang memiliki didikasi seorang Ibu yang rela bekerja keras demi untuk meningkatkan perekonomian keluraga. Dia rela berjualan dari pagi hari hingga petang hanya untuk menjaga kedua anaknya agar tetap sekolah. Dan mama Sitna kiranya layak dijuluki Kartini masa kini.

Emansipasi yang didengung-dengungkan oleh kaum feminisme barat tentunya tidak berlaku bagi perempuan-perempuan Indonesia. Dibelahan budaya manapun di bumi nusantara ini perempuan mendapat harkat dan kedudukan yang setara dengan laki-laki. Lihatlah mama Sitna, kedudukannya sejajar dengan suaminya dalam menghidupi keluarga. Ketika suaminya berkebun mama Sitna sigap memasarkan hasil kebunnya. Ketika suami sebagai penopang ekonomi kelurga mulai lemah, mama Sitna cekatan menopangnya.

Berjualan Hasil Kebun

Menurut mama Sitna, berjualan hasil kebun seperti buah pisang, jambu air, jambu biji, kacang merah goreng, kacang kulit, jagung rebus dan hasil kebun lainnya dimulai semenjak berhentinya konflik 7 tahun silam. “Akibat konflik semua harta benda keluarga habis bahkan ladang yang menjadi satu-satunya tempat matapencahrain dibakar orang sehingga tanaman yang sudah besar dan banyak menghasilkan mati semua,” ungkapnya.

Menurut mama Sitna, dengan sisa-sisa tenaga dan harta kami sekeluarga bangkit dari keterpurukan akibat konflik. Bersyukur tanah di sini (red.desa Malifut) sangat subur sehingga untuk menanam apa saja pasti hidup sehingga kami sekeluarga bisa bertahan hidup. “awalnya kami cuma menanam ketela pohon, karena disamping mudah menanam dan merawatnya ketela pohon juga bisa sebagai makanan pengganti nasi sehingga mudah dimakan,” jelas mama Sitna.

Pada masa-masa awal, lanjut mama Sitna, berkebun untuk memenuhi kehidupan keluarga tidak menjadi persoalan akan tetapi beberapa bulan kedepan keluarga kami terdesak oleh kebutuhan-kebutuhan yang lainnya yang memerlukan uang kontan sebagai alat pembayaran. “seperti beli minyak tanah, minyak goreng, beli sabun, pakaian dan lain-lainnya yang memerlukan uang kontan,” kata mama Sitna.

Menghadapi kondisi yang kian sulit akhirnya mama Sitna memutuskan untuk berjualan apa saja. Menurut mama Sitna, awalnya dia hanya menjual singkong yang direbus, buah pisang pulo, buah jambu dan segala hasil kebun yan bisa dijual. “pokoknya saya menjual apa saja dari hasil kebun yang bisa saya jual yang penting saya bisa mendapatkan uang kontan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata mama Sitna.

Meskipun keuntungan yang didapat dari berjualan tidak seberapa banyak, menurut mama Sitna hasilnya sangat berarti buat keluarganya karena dari uang yang tidak seberapa itu dia bisa membeli minyak tanah untuk memasak maupun memberi uang jajan bagi kedua anaknya yang saat ini masih sekolah di bangku SMK Pertanian. “untungnya biaya pendidikan ringan, sehingga anak-anak saya bisa sekolah semua,” ujar mama Sitna.

Menurut mama Sitna, hasil berjualan dari hasil kebun biasanya perhari hanya dapat mengantongi uang sebanyak Rp. 20.000 dan jumlah tersebut sangat kurang untuk biaya hidup pulau Halmahera yang semuanya serba mahal. Dan kalau kalau dagangan habis mama Sitna hanya mengantongi uang Rp. 60.000 itupun jarang sekali terjadi.”uang segitu cukup buat keluarga saya, karena uang yang saya dapat dari hasil kebun sendiri yang tidak perlu dipotong untuk modal lagi,” katanya.

Menurut mama Sitna, dirinya berjualan di depan warung makan di pinggir jalan trans Halmahera Utara. Setiap hari mama Sitna berjualan mulai jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Meskipun begitu, mama Sitna tidak pernah mengeluh terhadap nasib yang diterimanya. Baginya hidup dan keluarganya adalah berkah yang terbesar yang diberikan Tuhan sehingga mama Sitna senantiasa berjuang demi kehidupan keluragnya.

Prinsip hidupnya adalah berjuang untuk menghidupi kelurganya patut dijadikan teladan. Apalagi apa yang dia lakoni selama ini yaitu berjualan hasil kebun sendiri merupakan hasil usahanya sendiri dan keluarga tanpa ada bantuan dari orang lain. Kiranya sosok seperti mama Sitna inilah yang layak mendapat dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat untuk ekonomi produktif karena dana BLM tersebut sudah ditetapkan bahwa perempuan mendapat jatah 25% dari total dana BLM yang ada. Namun sayang hingga saat ini mama Sitna tidak pernah mengerti bahwa ada bantuan permodalan bagi perempuan seperti dirinya.

0 Response to "Mama Sitna, Bertahan Dari “Luka” Konflik"

Posting Komentar

Silahkan beri komentar