Borobudur: Sumber Pencerahan dan Inspirasi Revolusi Mental Sejak Abad 9 M

Jauh sebelum Angkor Wat berdiri di Kamboja dan Katedral-katedral megah bermunculan di Eropa, Candi Borobudur telah berdiri dengan gagah di tanah Jawa. Bahkan semenjak pertengahan abad 9 hingga awal abad 11 Masehi, Borobudur menjadi tujuan utama umat Budha di seluruh dunia untuk mecari inspirasi dan pencerahan diri.

Dengan perkembangan peradaban saat ini, salah satu tantangan yang besar bagi bangsa kita adalah bagaimana keberadaan situs Borobudur yang ada di tengah-tengah masyarakat mampu lestari, menjadi sumber inspirasi dan memperkuat integritas kehidupan berbangsa dan bernegara menuju bangsa yang berkepribadian dan bermartabat.

"Dalam mewujudkan bangsa yang berkepribadian dan bermartabat tersebut, tentu kita diharapkan untuk mampu mengubah cara pikir dan tindak masyarakatnya melalui kegiatan yang kreatif dan inovatif dalam rangka memperkuat kepribadian dan martabat bangsa Indonesia, inilah yang kita sebut Revolusi Mental,"

Demikian pandangan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani  saat menandatangai poster perangko pada acara peluncuran perangko seri 200 Tahun Penemuan Borobudur di Taman Lumbini, Komplek Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu, (15/11).

"Tahun ini Candi Borobudur sudah genap berusia 200 tahun, sejak ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada 1814. Borobudur adalah candi atau kuil Budha terbesar di dunia sekaligus salah satu monumen Budha terbesar di dunia. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran dengan proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 2011 atas upaya Pemerintah RI dan UNESCO," kata Menko PMK.

Kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) pada tahun 1991 yang didasarkan pada hasil karyanya yang mahakarya, unik dan berkaitan langsung dengan tradisi atau peristiwa dengan makna universal yang luar biasa.

Menko PMK menambahkan di era global terlebih dengan dibukanya Masyarakat Ekonomi Asean (EA) pada Desember 2015, interaksi lintas budaya menjadi kian meningkat dan sangat mempengaruhi eksistensi dan identitas budaya suatu bangsa.

Menurut Menko PMK, kita dituntut untuk berperan aktif sesuai dengan posisinya masing-masing untuk menjaga agar kehidupan budaya Indonesia tidak tergerus oleh budaya yang dapat mengancam kehidupan Bhineka Tunggal Ika.

Mengenai  rencana akan dibangunnya Borobudur Center di komplek Candi Borobudur, Menko PMK setuju dengan gagasan Pemprov Jawa Tengah tersebut. “Dengan dibangunnya Borobudur Center  ada pusat pembelajaran dan kebudayaan di Candi Borobudur, maka akan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kebudayaan,” ujar Menko PMK.

Menurut Menko PMK, dengan adanya Borobudur center itu, Candi Borobudur bukan hanya sebagai tempat rekreasi dan ibadah umat Buddha, namun juga menjadi pusat kebudayaan. Sehingga dengan adanya pusat pembelajaran Buddha dan budaya itu, akan lebih membuka wawasan masyarakat mengenai kebudayaan di Indonesia.

Penemuan Borobudur

Kata Borobudur sendiri berdasarkan bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti tertulis yang lebih tua yang memberi nama Borobudur pada candi ini. Satu-satunya dokumen tertua yang menunjukkan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Di kitab tersebut ditulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi penganut Buddha.

Arti nama Borobudur yaitu "biara di perbukitan", yang berasal dari kata "bara" (candi atau biara) dan "beduhur" (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan sebagai tempat ibadat penganut Buddha.

Candi ini selama berabad-abad tidak lagi digunakan. Kemudian karena letusan gunung berapi, sebagian besar bangunan Candi Borobudur tertutup abu vulkanik. Selain itu, bangunan juga tertutup berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai terlupakan pada zaman Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15.

Pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro daerah Magelang. Karena minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa, maka Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.

Cornelius dibantu oleh sekitar 200 pria menebang pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa tersebut. Karena mempertimbangkan bangunan yang sudah rapuh dan bisa runtuh, maka Cornelius melaporkan kepada Raffles penemuan tersebut termasuk beberapa gambar. Karena penemuan itu, Raffles mendapat penghargaan sebagai orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali. Candi ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956, pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk meneliti kerusakan Borobudur. Lalu pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia untuk melakukan pemugaran Candi Borobudur dengan bantuan dari UNESCO. Namun pemugaran ini baru benar-benar mulai dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1973. Proses pemugaran baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai World Heritage Site atau Warisan Dunia oleh UNESCO.

Menjadi Inspirasi

Borobudur tidak hanya memiliki nilai seni yang teramat tinggi, karya agung yang menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis serta telah menjadi bukti bahwa sikap tolerasi adalah warisan luhur bangsa.

Dalam catatan sejarah, Borobudur mulai dibangun pada masa Raja Rakai Panangkaran keturuna wangsa Sanjaya. Adapun agama yang dianut pemerintahan waktu itu adalah Hindu Siwa, bahkan Rakai Panangkaran menganugrahkan desa Kalasan kepada Sangha (komunitas Budha) untuk pemeliharaan dan pembiyaan candi.

Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya.

Bahkan persaingan kedua wangsa saat itu, yaitu Sanjaya yang menganut Hindu Siwa dan Syailendra yang menganut ajara Budha Mahayana ditenggarai sebagai sebab munculnya bangunan-bangunan megah waktu itu.

Tercatat ada beberapa candi yang dibangun pada masa kedua wangsa tersebut, antara lain Candi Gunung Wukir, Gunung Sari, Gedong Sembilan, Pringapus, dan Candi Prambanan semuanya candi Hindu. Candi Kalasan, Borobudur, Sewu, dan candi Plaosan merupakan candi penganut Budha. Semua candi tersebut dibangun rentan waktu tahun 723 hingga 856 Masehi.

Inilah yang dimaksud sebagai revolusi mental dibidang budaya, perbedaan keturunan dan keyakinan bukan menjadi sebab perpecahan, akan tetapi menjadi sumber inspirasi  bagi kemajuan peradaban bangsa. (deni/dbs)

0 Response to "Borobudur: Sumber Pencerahan dan Inspirasi Revolusi Mental Sejak Abad 9 M"

Posting Komentar

Silahkan beri komentar