Bang Herman, Susahnya Menjual Kerak Telor


Pernah dengar makanan khas Betawi yang namanya kerak telor? Yang pasti bukan telor gosong yang terus jadi kerak. Makanan ini selalu ada di arena Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (RRJ) dari tahun ke tahun, mulai dari jamannya masih di Monas hingga kini pindah ke Kemayoran.

Menurut Bang Herman Jaelani, salah satu penjual kerak telor di kawasan Kemayoran dan di luar arena PRJ, kerak telor merupakan makan khas Betawi yang sudah ada sejak jaman Belanda. Makanan ini terbuat dari nasi ketan aron atau setengah matang, yang kemudian dicampur dengan telor (bisa telor ayam atau telor bebek) beserta bumbunya. Setelah matang dimakan dengan taburan serundeng dan bawang goreng.

Menurut Bang Herman, cara masaknya juga cukup unik. Ketika kerak telor telah setengah matang maka wajan pemasaknya dibalikkan dan kerak telor dibiarkang langsung terkena panas arang dari anglo sehingga kemudian menjadi sedikit gosong. ”Mungkin ini yang dinamakan keraknya,” ujar Bang Herman.

Menurut lelaki asli Kemayoran ini, makanan kerak telor merupakan simbol keprihatinan dan kesengsaraan masyarakat Betawi pada jaman Belanda. ”Kate orang-orang dulu, sejarah munculnya makanan kerok telor pade awalnye sewaktu Indonesia masih di jajah ame Belande. Saking susahnya orang-orang Kemayoran sampe gak punya minyak untuk menggoreng, sehingga beras ketan yang ade cuma dicampur sama kelape lalu di goreng tanpa menggunakan minyak goreng, kemudian dari itulah muncul apa yang namanye kerak telor,” jelas Bang Herman dengan logat Betawinya yang kental.

Prihal keunikan kerak telor, menurut Bang Herman, karena kerak telor hanya ada di Jakarta dan banyak bermunculan ketika event tahunan PRJ diselenggarakan. ”Kerak telor itu identik dengan PRJ, juga sebaliknye, makanya kalau di PRJ tidak ada kerak telor maka penyelenggaraan PRJ kurang begitu afdhol,” katanya.

Menurut Bang Herman, tahun ini penyelenggara PRJ kurang begitu berpihak kepada para pedegang kerak telor, pasalnya setiap pedagang kerak telor dikenakan biaya yang cukup besar. Bagi pedagang kerak telor yang berjualan di dalam arena PRJ dikenakan biaya Rp 2,5 juta selama sebulan sedangkan yang di luar arena dikenakan Rp 200 ribu untuk biaya kebersihan. ”Udah gitu, tiap kali masuk juga musti bayar tiket Rp 16 ribu. Padahal tahun kemarin gratis," ujar Bang Herman.

”Belum lagi pungutan-pungutan liar yang dilakuan pihak trantib, ormas-ormas semisal FBR maupun preman semakin menambah beban bagi para pedagang kerak telor di arena PRJ,” ungkap Bang Herman.

Menurut Bang Herman, pendapatan pedagang kerak telor pada PRJ kalinya juga semakin kecil karena daya beli masyarakat semakin menurun karena harga BBM naik yang dikuti oleh kebutuhan pokok lainnya. ”Apalagi harga tiket masuk arena PRJ semakin mahal. Untuk hari biasa aja harga tiketnya Rp 15.000 sedangkan hari Sabtu dan Minggu Rp 22.000,” kata Bang Herman.

Untuk itu, lanjut Bang Herman, dirinya atas nama pedagang kerak telor meminta diberikan keringanan-keringanan untuk berjualan kerak telor di PRJ. Misalnya tidak dikenakan biaya retribusi yang besar dan membebaskan biaya masuk ke dalam arena PRJ.

Saya setuju kalau pedagang kerak telor yang berjualan di dalam arena PRJ di batasi demi ketertiban tapi kalau menarik retribusi yang terlalu besar saya kurang setuju, karena akan semakin menambah beban pedagang kecil, seperti pedagang kerak telor, apalagi kerak telor identik dengan PRJ ” jelas Bang Herman.

Semakin Susah

Menurut Bang Herman, saat ini kerak telor semakin susah ditemukan di wilayah Jakarta, pasalnya orang yang mau berjualan kerak telor juga sedikit. Apalagi saat ini keuntungan berjualan kerak telor semakin kecil dan peminatnya juga semakin sediki. ”Dulu berjualan kerak telor rame, karena mungkin di Jakarta orang Betawinye masih banyak tetapi saat ini orang Betawi banyak yang kena gusur dan pindah ke pinggiran seperti Bekasi dan Tanggerang,” kata Bang Herman.

Menurut lelaki paruh baya ini, dirinya berjualan kerak telor sejak tahun 70-an ketika Jakarta Fair masih di Monas. Pada awalnya dia hanya ngikut orang tuanya berjualan, namun ketika orang tuanya tidak sanggup berjualan lagi dia menggantikan orang tunya berjualan kerak telor.”Boleh dibilang saya berjualan kerak telor turun temurun, saya menggantikan orang tua berjualan dan orang tua saya menggantikan kakek saya,” kata Bang Herman.

Saat ini, lanjut Bang Herman, ketika PRJ tidak ada, dirinya berjualan di kawasan Pasar Baru. Namun, lagi-lagi pemerintah DKI tidak berpihak kepada pedagang kerak telor. Saat berjualan di Pasar Baru dia harus mengeluarkan uang keamanan atau uang jago kepada preman dan uang retribusi kepada petugas trantib akan tetapi masih sering juga dikejar-kejar trantib. ”Saat berjualan di Pasar Baru tiap hari saya harus mengelurkan uang Rp 15.000, buat uang jago dan uang retribusi, belum lagi dikejar-kejar petugas dengan alasan tidak tertib” katanya.

Menurut Bang Herman, keuntungan menjual kerak telor tidaklah besar, meskipun setiap kali berjualan bisa menghabiskan 20-30 butir telor namun keuntungan yang dia dapat hanya Rp 20.000-40.000 sehari. Belum lagi kena potiong sana-sani. ”Setiap kali berjualan saya bisa menghabiskan 20-30 butir telor dengan harga kerak telor perbuah Rp 7 ribu untuk telor ayam dan Rp 8 ribu untuk telor bebek,” kata Bang Herman.

Bang Herman juga menuturkan bahwa dia juga pernah berjualan di Mall Golden Truly, Gunung Sahari namun kentungannya semakin kecil karena sewa tempatnya mahal. ”Di Golden Truly selain mahal sewa tempatnya saya juga harus bersaing dengan makanan-makanan dari luar negeri seperti Mc Donald,” ungkapnya.

Untuk itu Bang Herman berharap kepada pemerintah Jakarta agar pedagang kerak telor diperhatikan nasibnya. Minimal ruang gerak pedagang kerak telor tidak dibatasi alias tidak dikejar-kejar trantib. ”Syukur-syukur kerak telor dilindungi sebagai sebuah identitas kota Jakarta yang mulai hilang karena tergilas oleh makanan-makanan produk luar negeri,” jelas Bang Herman.

Menurut Bang Herman, entah sampai kapan kerak telor ini akan bertahan di tengah derasnya serbuan fast food barat seperti McD, Burger King, Pizza atau juga japanese food seperti HokBen yang kini ada di mana-mana. Bahkan saat ini tampaknya lebih bangga menjadi bagian dari kapitalis kuliner barat seperti Burger Blenger atau japanese food lokal seperti Roku-Roku ketimbang melestarikan kuliner lokal seperti kerak telor ini.

0 Response to "Bang Herman, Susahnya Menjual Kerak Telor"

Posting Komentar

Silahkan beri komentar