Horizon Budaya, Sebuah Catatan Kecil Tentang Kekayaan dan Keragaman Budaya, Adat Istiadat, Tradisi, Bangunan Bersejarah, serta Kearifan Lokal Indonesia. Mengenal Indonesia Berarti Mengenal Keragaman Budaya Dunia

18 Agustus 2009

Tradisi Menyambut Puasa


Mandi Padusan, Nyekar, Dan Resik-Resik Kubur.

Hampir disetiap pelosok kampung yang berada di Jawa menjelang bulan Puasa memiliki tradisi yang sudah ada sejak dahulu. Diantaranya Padusan dan Nyadrah atau nyekar atau resik-resik kuburan leluhur. Entah sejak kapan tradisi tersebut dimulai, tapi yang pasti tradisi tersebut memiliki dimensi social yang tinggi.

Menjelang bulan puasa tradisi padusan (mandi) masih banyak di lakukan masyarakat Jawa. Padusan yang biasanya dilaksanakan sehari menjelang puasa ini untuk tahun ini jatuh pada hari Sabtu 23 September 2006. Masyarakat melakukan tradisi padusan ini sebagai simbol mensucikan diri dari kotoran dengan harapan bisa menjalankan puasa dengan diawali kesucian lahir dan batin. Tradisi Padusan ini bisanya dilakukan di pemandian umum dan di sumber air alami sehingga tempat tersebut biasanya dijejali pengunjung sehari sebelum puasa.

Di Sleman sedikitnya ada tiga tempat sumber air alami yang banyak dikunjungi masyarakat untuk melakukan tradisi padusan yaitu Umbul Pajangan di Wedomartani Ngemplak, Umbul Klangkapan di Margoluwih Seyegan dan Tuk Si Bedug di Margodadi Seyegan. Masyarakat yang memadati tiga sumber air alami ini tidak hanya dari sekitar sumber tersebut tetapi juga pendatang luar daerah. Dengan banyaknya peminat padusan di sumber air alami ini maka masyarakat harus rela antri untuk bisa mandi atau melakukan padusan.

Minat yang tinggi masyarakat untuk melakukan padusan di sumber air alami ini tentunya tidak terlepas adanya mitos-mitos tertentu pada tempat-tempat tersebut. Salah satunya adalah keberadaan Tuk Si Bedug mempunyai legenda yang berhubungan dengan seorang tokoh Agama Islam, yaitu Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari 9 (sembilan) wali atau lebih dikenal sengan nama WALISANGA.

Alkisah perjalanan Sunan Kalijaga dalam melaksanakan syiar Agama Islam sampailah di tempat yang sangat redup dibawah pohon besar yang kemudian beliau beristirahat ditempat itu. Pada waktu tengah hari Kanjeng Sunan Kalijaga akan melaksanakan sholat Jum’at yang pada waktu itu tepat pada Hari Jum’at Pahing.

Pada waktu Kanjeng Sunan Kalijaga akan melaksanakan wudlu sebelum Sholat Jum’at dan tidak mendapatkan air, kemudian Kanjeng Sunan Kalijaga memohon kemurahan Allah SWT, lalu menancapkan tongkatnya dan keajaibanpun terjadi, dari tancapan tongkat tersebut memancar air yang sampai saat ini tidak pernah kering dan diberi nama TUK SI BEDUG.

Sebagian masyarakat meyakini air dari sumber-sumber alami ini sebagai air suci sehingga diharapkan dengan melakukan padusan di tempat tersebut mereka bisa mendapatkan tuah baik itu berupa kesehatan maupun tercapainya harapan mereka.

Nyadrah atau Nyekar

Tidak hanya Padusan, Nyadrah atau Nyekar atau Resik-resik makam juga telah menjadi tradisi turun-temurun yang dilakukan menjelang datangnya bulan puasa.

Di perkampung di Jawa, warga menggelar tradisi resik-resik kubur atau bersih-bersih makam. Kebetulan hari libur bertepatan dengan seminggu sebelum awal Ramadan, di mana umat Islam akan melakukan ibadah puasa. Orang Jawa menyebut bersih-bersih makam sebagai bagian dari tradisi nyadran.

Dengan membawa sapu, cangkul, sabit, dan korek api untuk bakar sampah, serta peralatan lain, mereka mendatangi kompleks pemakaman. Setiap orang mendahulukan membersihkan makam orang tua, kakek/nenek, leluhur, dan saudaranya yang telah meninggal. Setelah itu, membersihkan makam-makam lain, yang belum sempat dibersihkan oleh keluarganya.

Bagi sebagian masyarakat di seluruh Indonesia khususnya di Jawa, bersih-bersih kubur merupakan ritual yang tak habis dimakan zaman. Dari tahun ke tahun, masyarakat di Jawa selalu melakukan tradisi Nyadrah atau Nyekar apalagi dengan momentum datangnya bulan puasa.

Tradisi Budaya

Bagi masyarakat Jawa, ibadah puasa di bulan Ramadan telah membumi menjadi tradisi yang sangat merakyat. Karena telah lebur menjadi tradisi, puasa serasa lebih sebagai gejala kebudayaan daripada ritual ibadah, sehingga dampak sosialnya juga lebih nyata.

Budayawan Ahmad Tohari mencontohkan, orang Banyumas dan kebanyakan orang Jawa pada umumnya menyambut kedatangan bulan suci dengan acara nyadran di bulan sebelumnya, yaitu bulan Sadran atau Syakban.

''Inilah bulan yang biasa disebut sebagai bulan untuk bersih-bersih. Inilah bulan yang membawa kesempatan bagi semua orang untuk membersihkan diri lahir batin sebagai persiapan diri untuk menunaikan ibadah puasa sebulan penuh,'' tutur dia, beberapa waktu lalu.

Upaya membersihkan diri secara lahir disimbolkan dengan berbagai ritus, antara lain mandi keramas (pada malam hari). Pada hari yang telah disepakati, semua warga kampung bergotong-royong membersihkan kuburan serta mengirim doa untuk para leluhur.

Kebanyakan orang Jawa, sadranan merupakan kegiatan ritual. Seusai kerja bakti, warga menikmati makanan kecil yang dibawa dengan tenong atau bakul.

Di Banyumas, menurut Ahmad Tohari, sadranan adalah kenduri dengan hidangan khas, yang tidak dibuat pada bulan di luar Syakban. Selain dengan hidangan khas, waktu penyelenggaraannya pun istimewa, yakni sebelum terbit fajar. Boleh jadi, kenduri sadranan dilaksanakan sebagai upaya pembiasaan diri makan sahur, karena bulan puasa hampir tiba.

Namun, sejatinya tradisi resik-resik kubur bukanlah monopoli orang yang akan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Sejumlah literatur menyebutkan, dalam tradisi China, resik-resik kubur juga dilakukan, terutama pada Hari Ceng Beng (Bersih dan Terang) setiap tanggal 5 April (hari raya mengunjungi kuburan). Tradisi Ceng Beng itu timbul atas perintah dari Kaisar Chu Goan Chiang. Di Taiwan, tanggal tersebut merupakan hari libur nasional, karena untuk memperingati hari wafatnya mantan Presiden Chiang Kai-shek.

Di Eropa, mereka juga melakukan hal yang sama. Sebagai contoh di Jerman, hari resik-resik kubur disebut Totensonntag (minggu orang mati), karena selalu dirayakan pada hari Minggu terakhir sebelum Minggu Advent pertama. Mereka melakukan hal itu bukan merupakan tradisi Kristen, melainkan berdasarkan amanat dari Raja Friedrich Wilhelm III pada 1816.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar